SEMARANG – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang menggelar Focus Group Discussion (FGD) Toleransi bertema “Membangun Semarang Semakin Inklusif” di Hotel Pandanaran Semarang, Kamis (29/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog dan pertukaran gagasan antara pemerintah daerah, legislatif, serta berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat toleransi, kesetaraan, dan inklusivitas di Kota Semarang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua FKUB Kota Semarang, Drs. KH. Mustam Aji, MM. Dalam sambutannya, Mustam Aji menyampaikan sejumlah capaian terkait penguatan inklusi di Kota Semarang sekaligus menekankan pentingnya menjaga komitmen bersama dalam merawat keberagaman.
Menurutnya, membangun kota yang inklusif tidak hanya sebatas menjaga kerukunan antarumat beragama, tetapi juga memastikan setiap warga mendapatkan ruang dan kesempatan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Membangun Kota Semarang yang semakin inklusif bukan hanya tentang menjaga kerukunan antarumat beragama, tetapi juga memastikan bahwa setiap warga memiliki ruang, kesempatan, dan hak yang sama. Capaian yang telah diraih harus terus kita jaga dan tingkatkan melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” ungkap Mustam Aji.

keynote speech disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Budi Prakosa, ST., MT., yang hadir mewakili Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Prakosa menekankan pentingnya sinergitas seluruh perangkat daerah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang inklusif serta menjamin kesetaraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Mewujudkan Kota Semarang yang inklusif membutuhkan sinergitas seluruh perangkat daerah. Toleransi dan kesetaraan harus menjadi bagian dari penyelenggaraan pemerintahan, mulai dari perumusan kebijakan hingga pelayanan publik, sehingga seluruh masyarakat dapat merasakan hak dan kesempatan yang sama,” jelasnya.
Memasuki sesi inti, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi yang menghadirkan tiga narasumber dari unsur pemerintah, legislatif, dan lembaga pemerhati toleransi.
Budi Prakosa, ST., MT., memaparkan materi bertajuk “Sinergitas Perangkat Daerah dalam Penguatan Toleransi dan Penyelenggaraan Kota Semarang yang Inklusif”. Dalam paparannya, ia menggarisbawahi bahwa pembangunan kota inklusif membutuhkan kerja sama lintas sektor agar nilai toleransi dapat diwujudkan melalui program dan kebijakan pemerintah.
Selanjutnya, Ketua Komisi A DPRD Kota Semarang, Joko Susilo, S.M., menyampaikan materi mengenai “Peran dan Dukungan Kebijakan Legislatif dalam Memperkuat Toleransi, Kesetaraan, dan Inklusivitas di Kota Semarang”.
Ia menyoroti pentingnya dukungan kebijakan legislatif dalam memberikan perlindungan dan menjamin kesetaraan bagi seluruh masyarakat.

“Toleransi harus diwujudkan dalam kebijakan nyata, bukan sekadar menjadi slogan. Karena itu, diperlukan komitmen bersama agar setiap warga mendapatkan perlakuan dan kesempatan yang setara,” ungkap Joko Susilo.
Sementara itu, Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, S.Pd., MA., membawakan materi “Indeks Kota Toleran dan Tantangan Mewujudkan Kota yang Inklusif: Refleksi dan Agenda Penguatan Toleransi di Kota Semarang”.
Dalam pemaparannya, Halili Hasan menjelaskan bahwa Indeks Kota Toleran tidak semata-mata menjadi tolok ukur peringkat, tetapi juga instrumen evaluasi untuk melihat sejauh mana pemerintah daerah menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan serta menghadirkan kesetaraan bagi masyarakat.
“Indeks Kota Toleran bukan sekadar persoalan peringkat, tetapi menjadi instrumen refleksi untuk melihat sejauh mana pemerintah daerah mampu menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan serta menghadirkan kesetaraan bagi seluruh warga. Tantangannya adalah bagaimana capaian tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan dan praktik yang benar-benar dirasakan masyarakat,” paparnya.
Melalui kegiatan FGD ini, FKUB Kota Semarang berharap terbangun kesamaan perspektif, komitmen, dan sinergi antarpemangku kepentingan dalam memperkuat toleransi dan mewujudkan Kota Semarang yang semakin inklusif, harmonis, serta memberikan ruang kesetaraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dengan demikian, keberagaman tidak hanya menjadi realitas sosial yang diterima, tetapi juga menjadi kekuatan bersama dalam membangun Kota Semarang yang damai, terbuka, dan berkeadilan.

