Semarang, (FKUBKS) — Persoalan banjir dan rob bukan hanya persoalan pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Semangat tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Organisasi Masyarakat (Ormas) Keagamaan yang diselenggarakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang di Hotel Noormans Semarang, Kamis (13/8/2026).
Mengusung tema “Sinergi Umat Beragama untuk Semarang Bebas Banjir dan Rob”, kegiatan ini menjadi ruang bersama bagi pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, aparat keamanan, legislatif, serta komunitas lingkungan untuk membangun komitmen bersama dalam menghadapi persoalan lingkungan dan bencana di Kota Semarang.
Rakor tersebut dihadiri unsur Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Kementerian Agama Kota Semarang, Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Ketua Komisi A DPRD Kota Semarang, Danramil, Kapolsek Semarang Tengah, sejumlah organisasi yang bergerak di bidang lingkungan, serta berbagai Ormas Keagamaan Kota Semarang.
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian sambutan dari Ketua FKUB Kota Semarang, Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang yang sekaligus menyampaikan keynote speech.

Ketua FKUB Kota Semarang, Drs. KH. Mustamaji, MM, menegaskan bahwa semangat kerukunan tidak berhenti pada hubungan antarumat beragama, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
“Kebersamaan antarumat beragama harus terus dibangun. Persoalan lingkungan dan bencana merupakan tanggung jawab kita bersama, tanpa membedakan latar belakang agama,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas agama menjadi kekuatan penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab sosial dapat menjadi modal besar dalam menjaga lingkungan Kota Semarang.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, H. Muhtasit, S.Ag., M.Pd., menekankan strategisnya peran tokoh agama dalam membentuk kesadaran masyarakat.
“Tokoh agama memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi kepada umat. Kepedulian terhadap lingkungan dapat ditanamkan melalui berbagai aktivitas keagamaan dan kemasyarakatan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Dr. Bambang Pramusinto, S.H., S.IP., M.Si., menyoroti pentingnya memperkuat kemitraan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Ia juga memberikan apresiasi terhadap FKUB Kota Semarang yang terus mendorong ruang dialog dan kolaborasi melalui kegiatan Rakor Ormas Keagamaan.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Glory Nasarani, S.T., M.T., M.Sc., menyampaikan keynote speech bertajuk “Membangun Kesadaran Ekologis Umat Beragama untuk Kelestarian Lingkungan Kota Semarang.”

Ia menekankan bahwa perubahan besar dalam menjaga lingkungan harus dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan masyarakat. Keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan hingga rumah ibadah dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan kebiasaan menjaga dan merawat lingkungan.
Rumah ibadah, lanjutnya, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat edukasi lingkungan karena memiliki kedekatan langsung dengan komunitas umat. Pesan-pesan tentang kebersihan, pengelolaan sampah, penghijauan, hingga kepedulian terhadap lingkungan dapat diintegrasikan dalam berbagai aktivitas keagamaan dan kemasyarakatan.
Dari unsur legislatif, Ketua Komisi A DPRD Kota Semarang, Joko Susilo, S.M., turut menyoroti pentingnya memastikan setiap kebijakan pembangunan tetap berpihak pada kelestarian lingkungan dan memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan penyampaian aspirasi dari berbagai Ormas Keagamaan Kota Semarang. Forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar gagasan, menyampaikan persoalan di lingkungan masing-masing, sekaligus merumuskan bentuk kontribusi nyata yang dapat dilakukan umat beragama.
Rakor ditutup dengan deklarasi bersama seluruh Ormas Keagamaan Kota Semarang sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat sinergi dalam menjaga lingkungan dan mendukung terwujudnya Kota Semarang yang lebih aman, sehat, dan tangguh menghadapi banjir serta rob.

Dari forum tersebut, tersirat satu pesan penting: kerukunan bukan hanya tentang hidup berdampingan, tetapi juga tentang bergerak bersama menghadapi persoalan yang dirasakan bersama.




